Sabtu, 15 Mei 2010

CERPEN II

KULIAH

oleh: Imam Suhaimi*

“Assholaatukhoirumminannauuum2x.. AllohuAkbar2X.. Lailahaillallooh..”

“Nak ayo cepet bangun, entar sholat berjemaahnya telat”

Kaki kecil itu melangkah dengan lincah, dingin dan beningnya air pagi itu menghiasi wajahnya. Tampaklah bersinar dari muka yang cerah nan polos, mengingatkanku pada seseorang yang kukenal 7 tahun yang lalu.

Tampan, tegas dan pekerja keras sifat yang diturunkan almarhum bapaknya pada Maik..ya, anakku satu-satunya itu sebenarnya punya nama panjang Ahmad Mikail.

“emmak..emmak..” “ada apa Mik..?oh maaf emmak keliru lagi, oya, ada apa Maik.?” Aku harus panggil dia begitu, katanya biar keinggris-inggrisan dan kedengarannya lebih keren.

“Emmak tau.. aku ini umur berapa?” dia memulai perbincangan.

“iya tahu, emang kenapa?” jawabku balik bertanya.

“Nah, emak tahu Taufiq, Laily sama Noer?”

“Ya tahu, mereka kan semuanya sepupu kamu”

“yach emmak, dunia juga pasti pada tahu, bukan itu maksudku.” Lanjutnya agak kecewa dengan jawabanku.

“Begini lho mak, emmak pernah bilang kalau kita berempat itu lahirnya barengan, Cuma selisih beberapa menit aja, harinya sama bulan juga sama, tahunnya juga.”.

Ya..yaa..aku baru inget, sekarangkan waktunya dia masuk sekolah dasar. Aku sudah menelantarkannya.

Taufiq, laily, sama Nour sudah didaftarkan bahkan sudah satu bulan yang lalu mereka merasakan suasana baru, seragam warna putih dan merah mereka tempelkan dibadannya setiap pagi.

Anakku.. oh anakku, kenapa aku lupa dengan pendidikanmu. “Emmak lagi mikirin apa?” dia menghentikan lamunan penyesalanku.

“Emmak pergi pagi, pulang malam, aku gak bakalan marah mak. Kan semua itu emmak lakuin katanya biar aku tetep bisa makan”.

“Sudahlah mak, jangan sedih, emmak lihat ini.” Dia menyambung lagi sambil menjulurkan tangan dan kemudian menunjukkan sebuah gelang.

Barang itu membuat hatiku berdebar, jantuk berdetak kencang, tekanan darah naik, keningku kukerutkan seseram mungkin.

“Dengar ya nak… Walaupun emmakmu ini susah, kerja harus banting tulang, saat panas kekeringan, waktu kehujanan mesti kedinginan. Tapi nak.. aku gak pernah minta kamu berpangku tangan sama orang lain, gelang emas itu.. kalo itu hasil minta-minta, kembalikan keasalnya, apalagi hasil mencuri, sekalian aja kamu pergi, gak usah tampakkan mukamu, lenyap aja sama barangmu itu..”

Aduh.. tampaknya aku keterlaluan dan berlebihan, gak semestinya aku marah panjang lebar, dan menuduhnya sebelum ku Tanya kebenarannya.

Ah.. dasar si Maik lugu, dia gak peduli kalo ada orang yang lagi naik pitam, dia hanya tahu cuma nada satu emmak yang suka ngomel sama dirinya.

“Emmak tenang dulu, aku gak bakalan melanggar perintah emmak”. Untunglah dia masih tenang menghadapi ibu satu-satunya ini.

“Begini mak, tadi pagi aku beli jajan berhadiah kalo beruntung, nah aku beruntung dapet gelang emas, ini tanda buktinya”.

Aku termenung sejenak ketika melihat apa yang ditunjukkan maik. Katanya gelang itu kalau dijual cukup buat beli seragam dan bayar biaya sekolahnya bahkan sampai luluspun masih ada sisanya.

*******

Kini ia sudah tamat sekolah dasar, itu berarti waktunya sekolah dijenjang yang lebih tinggi.

“Emmak, di desa sebelah katanya ada sekolah negeri baru”. Lagi-lagi aku kalah cepat, padahal aku juga inget akan pendidikannya.

Ngomong-ngomong sekolah baru itu, memang lagi promosi, katanya biayanya murah, gak pake uang gedung lagi.

“Disana aku bisa juga gratis, asalkan mengajukan permohonan beasiswa bagi yang gak mampu” dia mulai meyakinkanku.

“Emangnya sudah tentu dapet? Gak pake seleksi dulu?” tanyaku.

“Ya diseleksi mak, tapi kan peluangnya lebih besar dari pada beasiswa berprestasi, kalau yang itu banyak saingannya karena orang selalu bersaing menjadi yang berprestasi” Dia hentikan sejenak penjelasannya seraya menarik nafas.

“Beda mak, sama orang tidak mampu alias miskin, gak ada orang itu bersaing menjadi yang termiskin” lanjutnya.

Dasar ABG lugu, padahal orang miskin dinegeri kaya ini kan banyak, apalagi pas ada bantuan buat GAKIN, makin banyak yang mendaftarkan diri bahkan membeludak.

Kembali ke Ahmad Mikail alias Maik, dia sedikit beruntung, bisa sekolah gratis, bahkan di sekolah lanjutan (SMU) juga gratis, lagi-lagi dapet beasiswa bagi yang kurang mampu.

*****

“Emmak mau berangkat? Hati-hati ya mak, entar selesai dari kuliah, aku bekerja, nyusul emmak ” Seperti biasa dia menyapaku sebelum aku berangkat bekerja setelah Sholat Shubuh.

Namun pagi ini aku sudah gak kuat memendam sesuatu, kesedihan, kewajibanku dan haknya yang belum terpenuhi. Sudah Empat Tahun Maik lulus SMU.

“Emmak kok gak berangkat?”

“Kenapa emmak sedih, jangan mak, aku sudah terbiasa begini, gak ada yang bisa merebut kebahagiaan ini, emmak segalanya, sudah banyak yang emmak berikan, gak ada yang kurang”

Tetap saja kata-kata anak sedewasa Maik gak bikin aku tenang, yang ada tambah sedih.

“Emmak pernah bilang, memberikan warisan ilmu itu lebih baik dari pada mewariskan harta” Sambungnya penuh idealis

Aku pun tambah sedih sambil memeluk dia erat-erat.

“ya sudah, Emmak dengerin aja dulu, sekarang yang memberikan kuliah Ust. Jefri, berangkatnya entar bareng-bareng sama aku.”

“Nak.. maafin emmak” akupun harus bicara sama dia

“Gak ada niatan emmak kayak gini, kamu harus kuliah beneran!”

“Maksud emmak?” tanyanya heran dan panik

“kuliah yang dapet gelar, bukan nonton ceramah AA Gym, U-J ato yang lainnya di TV setiap ba’da Shubuh kayak gini!”****

Malang, 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar