1001 HARI SINDREGAWI MENANTI
Cerpen Oleh : Imam Suhaimi
Aku tidak paham kenapa bulan di langit masih meronta kadang tertawa. Di dalam gua yang penuh berang dan lintah jelita, aku sedikit ragu dalam pertapaanku, mampukah aku kelak menjelma?
Sedangkan langkahmu yang patah-patah terus-menerus mengusikku, keluar-masuk ke dalam gua membuat sinar bulat cahaya bulan dari secarik lubang gua menjadi tidak tenang.
Sampai sinar bulatan cahaya bulan yang kamu ganggu digantikan oleh cahaya matahari, kamu masih tampak meringik seperti kuda, sambil membisu dan matamu dibiarkan berkaca-kaca.
“Sindregawi, aku mohon, biarkan aku melewati semua ini!”. Gumamku dalam hati.
Aku tidak boleh mengeluarkan suara dari mulutku – pantangan – bagi aku yang ingin memilikimu sepenuhnya.
Aku harap kamu bisa mendengarkan apa yang aku rintihkan di hatiku, tolong kamu pahami!.
Baiklah, kalau kamu belum paham sekarang kamu pulang saja sana ke istanamu. Temui bapakmu, tanyakan apa yang sedang terjadi, kenapa aku sampai duduk terpejam di sini, di dalam gua bawah gunung Tlekung di keheningan telinga aku menyendiri.
Jangankan ular cobra yang ganas atau kalajengkling yang licik menjelajahi sambil menusuk setiap jengkal tubuhku dengan bisanya, tidak pernah aku hiraukan.
Apalagi tubuh semampaimu yang kamu tampakkan di sekitarku, aku terus mencoba menahan untuk menjelajahinya. Nanti dulu sayang! Belum waktunya.
Lihat saja kalau aku berhasil menjelma, aku akan menggelinding sesukaku berkali-kali, berhari-hari juga. Akan aku lakukan di ranjang kamar yang bersebelahan dengan kamar bapakmu di istana nanti.
Ya.. kamar bercat cokelat itu, aku sengaja memilihnya supaya bapakmu tahu bagaimana perkasanya aku setiap kali bertarung denganmu di kamarmu itu.
Oh iya.. kalau kamu sudah sampai di istana dan berjumpa dengan bapakmu, sampaikan salamku. Katakan padanya bahwa sebentar lagi aku akan penuhi perintahnya untuk memilikimu sepenuhnya.
Kamu juga jangan khawatir, aku sudah dititahkan menjalani rangkaian pertapaan ini, dari awal aku sudah bilang, jangan ikuti aku, jangan bawa makanan. Percuma, makanan itu hanya akan menjadi santapan tokek, tikus, kadang tupai sesekali menikmati makanan bawaanmu. Lalu yang terakhir sekelompok lalat mangais sisa-sisanya.
Sindregawi, kamu harus percaya, aku pasti bisa bertahan sampai hari ke 1001. Hari ini sudah ke 999 menurut hitunganku. Aku masih kuat – itu berkat segerumbulan lalat yang sering hinggap di bibirku dan perlahan masuk ke dalam mulutku yang menganga, setelah beberapa lalat itu masuk aku menelannya tanpa aku kunyah.
Pastilah setiap hari kamu merengek-rengek sama bapakmu, apa yang sebenarnya terjadi?.
Sindregawi, bapakmu pernah berjanji, dia hanya akan memberi tahumu tentang sebenarnya pada hari ke 1000, itu berarti esok.
Esok bapakmu akan memberi tahu kamu kalau aku lakukan ini sebagai pembuktian kesetiaanku. Selain itu juga sebagai hukuman terhadapku.
Kamu tahukan mengapa aku mendapatkan hukuman dari bapakmu?
Sebenarnya bukan hanya karena aku sering mengajakmu bercumbu di kamar mandi, atau bercinta setelah aku mengepel dan merapikan kamarmu – yang kamu anggap sebagai ungkapan terima kasih kepadaku.
Atau di kamar bapakmu saat aku diberi amanat menjaga kamarnya. Waktu itu bapakmu bilang pergi untuk satu minggu ke negeri seberang untuk merancang strategi kerjasama keamanan kerajaan.
Satu minggu penuh kita menikmatinya di kamar bapakmu. Sehari bisa tiga kali, sesekali juga dikamarmu.
Dengan bebas kita bercinta, karena tidak ada yang berani menghalangi kita masuk ke kamar bapakmu. Para pengawal tahu aku sudah mendapatkan amanah menjaga kamarnya, sedangkan kamu tidak lain adalah putri kesayangannya.
Sindregawi, selain kita kepergok menjalin kisah asmara oleh bapakmu, ada alasan lain mengapa dia berniat memenggal kepalaku.
Sebenarnya aku ingin mengatakannya sendiri sama kamu, tapi kamu juga tahu, pantanganku tidak boleh bergeser tempat dari pertapaanku, lagian aku juga tidak boleh berucap dengan siapapun termasuk kamu.
Sampai lembayung melilit tubuhku, tetap saja tidak menyurutkan aku untuk bergerak meraihmu.
Aku berharap kamu bersabar sayang! Walaupun hukuman ini melibas hatiku, aku tetap bersyukur, itu karena bapakmu tidak jadi menebaskan pedangnya di leherku dan membiarkan hidup terasing disini.
Setidaknya aku tetap bisa merasakan aroma wangi tubuhmu saat menjengukku.
Kamu bilang pikiranmu sudah kalut. Mungkin kalau boleh aku ungkapkan, pikiranku juga terasa sangat kelu.
Sindregawi, aku sangat mencintaimu, dinding gua ini juga tahu, batu-batu yang kaku juga tahu. Kamu bersiap saja, aku punya rencana membuatkan kamu pedongkang yang mewah, kita bisa berlayar berpetualang ke samudra dan melepas rindu di setiap pulau yang kita singgahi kelak.
Oh iya.. aku juga titip salam buat Swardiana, tolong sampaikan sama istri bapakmu itu, kalau lagi kesepian pergilah ke jendela, arahkan tatapan keluar, nikmati renai embun malam hari.
Tapi jangan lupa untuk tidak membuka jendela, sebab angin malam bisa saja mengacaukan kecantikannya.
Swardiana pasti bangga telah mewariskan kecantikannya sama kamu. Tapi kalau boleh aku membandingkan, sebenarnya dia seribu kali lebih cantik dari pada kamu.
Itu sebabnya mengapa bapakmu membiarkan aku hidup, Swardiana yang minta, bapakmu takut kehilangan dia, apa yang dia minta pasti diturutinnya. Aku harap kamu tidak tersinggung dengan ujaran perasaanku ini.
Bagaimana keadaanmu selama ini di istana? Pasti kangen untuk menyeruput teh panas bikinanku. Terus apa Bik Ipah sudah melaksanakan tugasnya menggantikannku?
Salam juga buat dia, jangan lupa menyediakan teh panas, roti bakar sedikit keju di pagi hari, terus siangnya masak nasi dan sop bening, tidak usah ditambah buntut. Kasihan bapakmu, nanti darah tingginya kambuh kalau terkena lemak atau daging.
Sebaiknya kalau malam jangan lupa bikin tumis kangkung. Supaya kalian cepat ngantuk dan bisa tidur nyenyak dan tidak ada yang terkena insomnia.
Maafkan aku, sekarang aku tidak bisa melayani kamu beserta keluarga besar istana. Aku juga kangen dengan suasana pagi hari, saat kalian terkekeh di teras depan sambil menikmati teh dan roti bakar bikinanku.
Merunut sejak kapan dan berapa lama aku bekerja menjadi pelayan istanamu, tidak pernah terjawab. Namun aku tetap senang karena pernah melayani kamu, bapakmu, dan tentu saja Swardiana.
********
hari ini adalah hari ke 1001, setelah sekian lama kamu menanti, kini kamu datang ke tempat pertapaanku.
Tidak seperti biasa, di petang yang remang-remang ini kamu datang dengan pengawal yang lebih banyak. Mereka kamu suruh membawa bebatuan besar dan pasir, lalu kamu perintahkan untuk menyusunnya di bibir muka gua yang menjadi satu-satunya jalan keluar.
Aku tidak akan marah dan menyalahkan kamu. Aku tahu pasti bapakmu sudah menceritakan semuanya bukan?
Ah Sindregawi.. aku juga tidak kaget dengan tindakanmu ini, kamu biarkan jantungku tersesak dan membelot. Nadiku juga kamu buat berhenti perlahan.
Sindregawi, maafkan aku, waktu itu setelah satu minggu kita berpesta di kamar bapakmu, aku pikir tidak akan lagi merasakan empuknya tempat tidur bapakmu.
Bapakmu juga pasti sudah bercerita ketika dia belum bisa pulang karena belum ada titik terang kesepakatan kerjasama keamanan dengan negeri seberang.
Swardiana bilang bapakmu harus melakukan perundingn satu minggu lagi, dan Swardiana dimintanya untuk pulang terlebih dahulu.
Sebenarnya aku sudah menolak, tapi Swardiana terus membujukku, kecantikannya juga menggodaku untuk menerima tantangannya.
Sekali lagi maafkan aku. Tadinya aku mengira seminggu setelah dengan kamu, aku bisa melanjutkannya dengan Swardiana selama satu minggu penuh sebelum bapakmu pulang.
Tapi di hari kedua itu, saat fajar tiba, bapakmu tanpa dikira juga sudah berada dalam kamar mendapati aku pulas di atas dada Swardiana tanpa busana setelah semalam bertarung hebat.
Sindregawi, jelmaanku akan menemuimu di istana setiap malam untuk memilikimu sepenuhnya. Aku tidak peduli kamu dan bapakmu membenciku, tapi aku masih bisa bergentayangan mendatangi Swardiana – ibumu – yang belum membenciku.
Malang, 25 Agustus 2009
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar